Proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan perkembangan positif setelah berjalan selama 11 bulan. Pemerintah kini memfokuskan perhatian pada penyelesaian pembangunan hunian permanen, fasilitas umum, serta peningkatan mitigasi untuk menjaga keselamatan warga.
Ketua Dewan Pengarah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Sugiono, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, pelaku usaha, dan masyarakat yang berkolaborasi memulihkan daerah terdampak. Meski dihadapkan pada kendala lapangan dan keterbatasan anggaran, sebagian besar program pemulihan telah terealisasi.
Perkembangan Layanan Dasar dan Permukiman
Dalam keterangannya di Posko Nasional Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Jakarta, pada Senin (26/10/2026), Sugiono menjelaskan bahwa sektor kesehatan hampir sepenuhnya pulih. Pelayanan kesehatan di sebagian besar fasilitas terdampak sudah kembali berjalan, walau pengerjaan enam puskesmas pembantu di Sumatera Utara masih terus dipercepat agar fasilitas medis kembali layak.
Pada sektor pendidikan, kegiatan belajar mengajar telah beroperasi normal, mendampingi proses rehabilitasi dan pembangunan kembali gedung-gedung sekolah yang rusak. Sementara di sektor permukiman, pemerintah terus mendorong percepatan penyediaan hunian permanen yang aman bagi warga terdampak.
Sugiono mengakui beberapa sektor penanganan masih membutuhkan langkah akselerasi. Namun, ia optimistis seluruh agenda pemulihan dapat rampung sesuai target melalui koordinasi yang kuat antarinstansi.
Mitigasi Iklim dan Pembersihan Sungai
Langkah pemulihan fisik turut didampingi dengan penguatan mitigasi bencana. Faktor kondisi geografis wilayah Indonesia serta dinamika perubahan iklim yang memicu pergeseran cuaca menuntut integrasi risiko bencana ke dalam setiap perencanaan pembangunan daerah.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menambahkan bahwa percepatan penanganan aliran sungai menjadi aspek krusial untuk mencegah timbulnya bencana susulan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Tujuannya adalah terutama bagaimana kita menghadapi banjir susulan, percepatan terutama untuk pembersihan sungai-sungai yang terkena sedimen,” ujar Tito.
Sumber: Berita - Detikcom








