Daftar Isi
Kelompok yang diduga preman muncul dan bertindak sebagai provokator dalam demonstrasi berujung ricuh di Yogyakarta pada 28 Oktober 2026 lalu. Sejumlah peserta aksi dan lembaga bantuan hukum melaporkan bahwa massa tak dikenal tersebut membawa senjata tajam serta berlindung di balik barisan aparat kepolisian.
Pengakuan Peserta Aksi Terkait Kemunculan Preman
Empat peserta aksi menuturkan kepada BBC News Indonesia mengenai kemunculan massa diduga preman dalam demo 28 Oktober 2026. Mereka menyatakan orang-orang ini mulai bergerombol sekitar sore hari dan makin intens memasuki malam di depan Gedung DPRD, berada di barisan kepolisian serta mengancam para peserta demo.
Salah seorang peserta aksi, Fadhil, mengungkapkan gerombolan yang disinyalir preman terlihat di area demo sekurang-kurangnya pada pukul lima sore. Selang sekira satu setengah jam, mereka keluar dan menetap di belakang polisi bertameng, lalu mulai melakukan provokasi dengan gestur mengejek serta melempar batu dengan ketapel ke posisi demonstran.
Pengakuan serupa disampaikan Ridwan yang awalnya mengikuti demo di Titik Nol sebelum bergeser ke depan gedung DPRD. Tidak sampai satu jam sejak kedatangannya, kondisi mendadak pecah ketika pendemo diserbu barisan massa tanpa seragam dari arah berlawanan yang membawa tongkat kayu dan senjata tajam.
Menurut Fadhil, keterlibatan kelompok preman bukan kali pertama terjadi karena pola serupa juga muncul dalam demo dua tahun peringatan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026 serta aksi penolakan relokasi pedagang kawasan Malioboro pada 7 Februari 2025.
Tuntutan Investigasi dan Tanggapan Pemerintah
Pengacara publik dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Royan Juliazka, yang mengawal demonstrasi 28 Oktober 2026 menyatakan massa tak dikenal berdiri di belakang barisan aparat kepolisian untuk memprovokasi pendemo organik. Berdasarkan pengamatan dan kesaksian yang dihimpun Royan kepada BBC News Indonesia, Jumat (30/10), kelompok preman tersebut menenteng kayu, senjata tajam, hingga bongkahan batu untuk dilemparkan ke arah pendemo.
Royan menuntut pemerintah provinsi untuk bersikap tegas dan menindak kelompok-kelompok tersebut guna membuktikan bahwa otoritas tidak mempunyai hubungan dengan premanisme. Ia menegaskan apabila peristiwa ini terus terjadi, maka preman-preman tersebut memang dipelihara oleh otoritas.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengklaim tidak mengetahui asal-usul kelompok itu dan memastikan mereka tidak berafiliasi dengan ormas Jaga Warga. Sri Sultan mendesak kepolisian mengusut tindak-tanduk perusuh yang membawa senjata tajam maupun merusak fasilitas publik sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menyatakan kelompok yang melakukan kekerasan saat demo 28 Oktober tiba-tiba datang dari arah barat Malioboro menuju gedung DPRD tanpa orasi dan langsung melakukan provokasi dengan melempar petasan serta kembang api ke arah petugas parkir dan gedung DPRD.
Akar Sejarah dan Relasi Kekuasaan Preman
Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Andreas Budi Widyanta, menjelaskan bahwa preman sebagai kelompok berbasis kekerasan selalu mencari patron yang kuat. Pada era Orde Baru, preman berada di bawah komando militer dalam hubungan patron-klien, namun kini mengalami reorganisasi yang bersifat cair dan menjalin relasi dengan banyak pihak termasuk ormas serta partai politik.
Andreas menuturkan kepada BBC News Indonesia, Jumat (30/10), bahwa kelompok preman dirawat dan dipelihara oleh kekuatan-kekuatan di atasnya guna menanggung berbagai kepentingan elektoral atau politik pencitraan tertentu, termasuk untuk meredam amarah demonstrasi sipil dengan dalih menjaga Yogyakarta dari berbagai wujud ancaman.
Sejumlah warga lain seperti Salsabila dan Gita turut merasakan keresahan atas kehadiran kelompok mencurigakan tersebut yang membuat situasi tidak aman dan seolah sengaja membenturkan warga dengan warga demi membungkam hak konstitusional untuk menyampaikan aspirasi.
Gita berharap pihak-pihak yang mengerahkan kelompok preman di Yogyakarta dapat diusut tuntas agar substansi pesan demonstrasi dapat terwujud tanpa rasa takut.
Sumber: BBC News Indonesia








