Metropolitan

Waspada Banjir Rob Ancam 15 Provinsi, Simak Imbauan BNPB

Waspada Banjir Rob Ancam 15 Provinsi, Simak Imbauan BNPB
Daftar Isi
  1. Wilayah Terdampak dan Langkah Antisipasi Pesisir
  2. Peningkatan Bencana Hidrometeorologi
  3. Imbauan Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi musim hujan, termasuk potensi banjir pesisir atau rob yang mengancam sejumlah wilayah di tanah air. Berdasarkan surat peringatan dini, ancaman tersebut dipicu oleh fenomena Fase Bulan Purnama pada 26 Oktober 2026, Fase Perigee pada 29 Oktober 2026, serta dinamika oseanografi.

Wilayah Terdampak dan Langkah Antisipasi Pesisir

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa wilayah pesisir yang terancam meliputi Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, hingga Maluku seperti dilansir Liputan6.com Megapolitan.

Sebagai langkah antisipasi, BNPB meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta masyarakat pesisir untuk membatasi aktivitas di pantai saat pasang maksimum. Warga juga diimbau menunda kegiatan melaut jika gelombang tinggi membahayakan, serta mengamankan perahu dan aset masing-masing.

Pemerintah daerah turut diminta mengoptimalkan pemantauan melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memeriksa kesiapan tempat pengungsian, membersihkan drainase pesisir, mengamankan tanggul pantai, serta menyiapkan personel dan logistik evakuasi. Penguatan koordinasi antara pemda, BPBD, dan masyarakat juga ditegaskan penting untuk meminimalkan risiko bencana.

Peningkatan Bencana Hidrometeorologi

Berton mengungkapkan bahwa kejadian bencana hidrometeorologi basah di berbagai wilayah Indonesia mengalami peningkatan hingga akhir Oktober 2026. Merujuk data per Jumat (30/10/2026), total kejadian bencana di Indonesia naik menjadi 2.247 kejadian yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi.

Kenaikan tersebut mencakup tambahan enam kejadian banjir di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Dampak banjir paling signifikan tercatat melanda Kabupaten Deli Serdang dengan 7.615 kepala keluarga (KK) terdampak dan 7.327 rumah terendam, serta Kota Medan yang berdampak pada 2.405 KK.

Potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat masih mengancam wilayah Aceh yang berstatus Siaga. Sementara itu, sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berstatus Waspada akibat dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman.

Imbauan Kesiapsiagaan Menghadapi Ancaman

Guna mengantisipasi bahaya hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang atau puting beliung, dan tanah longsor, BNPB meminta warga melakukan langkah-langkah dini. Untuk ancaman banjir, masyarakat diimbau bergotong royong membersihkan saluran air, melakukan susur sungai di bawah pengawasan petugas BPBD, mengidentifikasi jalur evakuasi yang aman, memeriksa infrastruktur bendungan, dan menyiapkan tas siaga bencana untuk kebutuhan darurat minimal tiga hari.

Menghadapi ancaman angin puting beliung dan angin kencang, warga diminta memperkuat struktur atap rumah serta memangkas ranting pohon yang rimbun di sekitar pemukiman dan ruang publik. Saat angin kencang terjadi, masyarakat dilarang berlindung di dekat objek rawan roboh seperti papan reklame, baliho, atau pohon besar.

Bagi warga yang bermukim di kawasan rawan longsor atau perbukitan, evakuasi mandiri harus segera dilakukan apabila terjadi hujan lebat berdurasi lama di wilayah hulu. Warga juga diminta mengenali tanda-tanda awal longsor seperti munculnya retakan pada tanah atau lantai rumah, serta terus memantau informasi cuaca resmi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *