Kecelakaan tragis menimpa kapal penumpang RMS Empress of Ireland yang tenggelam di Sungai Saint Lawrence, Quebec, Kanada, pada 29 Mei 1914. Peristiwa nahas ini merenggut nyawa sekitar 1.000 orang meskipun kapal tersebut dilengkapi dengan fasilitas sekoci yang sangat memadai.
Kronologi Tabrakan dan Tenggelamnya Kapal
Berdasarkan informasi resmi dari pemerintah Kanada, insiden bermula pada dini hari tanggal 29 Mei 1914 saat kapal RMS Empress of Ireland berlayar melewati Sungai Saint Lawrence dekat kawasan Rimouski (Pointe-au-Père), Quebec. Secara tak terduga, kapal penumpang tersebut bertabrakan dengan kapal pengangkut batu bara asal Norwegia, SS Storstad.
Benturan keras tersebut menghantam langsung lambung kapal RMS Empress of Ireland. Akibat hantaman itu, kapal langsung miring ke bagian samping dan tenggelam ke dasar sungai dalam kurun waktu yang sangat singkat, yakni hanya 14 menit.
Bencana maritim ini mencatatkan korban jiwa sebanyak 1.012 orang dari total 1.477 orang yang terdiri atas penumpang dan awak kapal. Tragedi tersebut pun tercatat sebagai musibah maritim yang paling parah serta mematikan sepanjang sejarah Kanada.
Kapasitas Sekoci Melimpah Namun Gagal Menyelamatkan
Kondisi yang sangat ironis terjadi karena kapal RMS Empress of Ireland sebenarnya telah dibekali dengan sekoci serta peralatan penyelamat jiwa dalam jumlah yang sangat banyak. Kapasitas total sekoci yang disiapkan bahkan melampaui jumlah seluruh orang di atas kapal saat pelayaran berlangsung.
Merujuk pada sertifikat pemeriksaan keselamatan atau Board of Trade Surveyor’s Certificate, kapal ini membawa 16 sekoci utama berbahan baja yang berkapasitas 764 orang. Selain itu, terdapat pula 20 sekoci lipat Engelhardt dengan daya tampung mencapai 920 orang.
Secara keseluruhan, kapasitas sekoci yang tersedia berkisar antara 1.860 hingga 1.965 orang. Angka tersebut jauh lebih banyak ketimbang jumlah total 1.477 penumpang dan awak kapal yang menghuni kapal pada malam terjadinya tragedi.
Kendati jumlah sekoci yang disediakan sangat melimpah, musibah tersebut tetap menelan banyak korban jiwa akibat dua faktor kondisi darurat yang tidak terhindarkan.
Faktor pertama adalah kemiringan kapal yang terjadi secara cepat dan parah ke sisi kanan atau starboard setelah ditabrak oleh SS Storstad. Keadaan ini menyebabkan seluruh sekoci yang berada di sisi kiri atau port sama sekali tidak bisa diturunkan ke permukaan air.
Faktor kedua, durasi kapal terbalik dan tenggelam sepenuhnya yang berlangsung hanya dalam waktu 14 menit. Situasi tersebut membuat awak kapal hanya sempat meluncurkan sekitar 6 sekoci di sisi kanan ke dalam air sebelum kapal benar-benar tenggelam.
Sumber: Berita - Detikcom








