Kementerian Sosial (Kemensos) menyiapkan teknologi pengenalan wajah atau face recognition untuk memperketat pendataan penerima bantuan sosial (bansos). Teknologi biometrik tersebut dihadirkan untuk melengkapi data nama dan alamat penerima agar identitas warga dapat dicocokkan langsung dengan wajahnya.
Penyempurnaan Sistem Pendataan Bansos
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyatakan bahwa sistem pendataan bansos selama ini masih mengandalkan metode berbasis nama dan alamat atau by name by address. Menurutnya, pencatatan identitas tersebut belum sepenuhnya menjamin bantuan diterima oleh orang yang berhak karena kerap diambil oleh anggota keluarga lain.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul saat memaparkan materi dalam Kongres Nasional (KONAS) XVI dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, pada Jumat, 30 Oktober 2026. Melalui sistem Perlinsos Digital, identitas warga akan diverifikasi lewat pengenalan wajah guna meningkatkan keakuratan data.
Selain biometrik wajah, platform Perlinsos Digital turut mengintegrasikan data masyarakat dari berbagai kementerian dan lembaga. Data tersebut mencakup kepemilikan sertifikat tanah dari ATR/BPN, kendaraan bermotor dari Samsat, pelanggan PLN, serta data kependudukan Dukcapil Kementerian Dalam Negeri.
Selanjutnya, sistem akan mengolah data yang terkumpul untuk menentukan kelayakan seseorang sebagai penerima bansos beserta alasan di balik keputusan tersebut. Uji coba sistem ini telah dilaksanakan di beberapa wilayah, salah satunya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Pelibatan Masyarakat dan Target Penyaluran
Dalam uji coba di Banyuwangi, sekitar 80 persen warga melakukan registrasi ulang, baik mereka yang telah menerima bansos maupun yang belum pernah mendapatkan bantuan. Namun, hanya 10 persen warga yang mendaftar secara mandiri, sementara sisanya dibantu oleh agen Perlinsos karena belum memiliki telepon pintar atau terbiasa dengan layanan digital.
Gus Ipul menyampaikan bahwa partisipasi aktif masyarakat sangat dibutuhkan guna memperluas pemutakhiran data. Ia mengajak organisasi profesi kesehatan, puskesmas, serta kader kesehatan untuk membantu masyarakat mengakses sistem layanan digital tersebut.
Ia juga mengarahkan agar proses pendataan dimulai dari lingkungan terdekat agar tidak ada warga yang membutuhkan bantuan terlewatkan. Melalui kombinasi teknologi modern dan pelibatan masyarakat ini, Kemensos berharap penyaluran perlindungan sosial dapat semakin akurat dan tepat sasaran.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








