Nasional

Beras 25 Kg di Mahakam Ulu Rp 1 Juta Akibat Kemarau Panjang

Beras 25 Kg di Mahakam Ulu Rp 1 Juta Akibat Kemarau Panjang
Daftar Isi
  1. Kendala Akses Transportasi di Wilayah Hulu
  2. Dampak Kerusakan Infrastruktur Jalan
  3. Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Warga

Musim kemarau panjang yang menyebabkan surutnya permukaan sungai membuat harga beras ukuran 25 kilogram di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, melonjak hingga menembus angka Rp 1 juta. Warga di wilayah pedalaman tersebut selama ini sangat bergantung pada jalur sungai untuk pengiriman logistik dan transportasi sehari-hari.

Kendala Akses Transportasi di Wilayah Hulu

Dirbinmas Polda Kaltim Kombes Arman menjelaskan terdapat tiga kampung di wilayah hulu Kecamatan Long Apari yang sebelumnya tidak dapat dijangkau melalui jalur darat. Perjalanan menuju lokasi tersebut memerlukan penggunaan perahu bermesin serta harus menaklukkan arus deras dan bebatuan dalam waktu tempuh beberapa jam seperti dilansir detikKalimantan pada Selasa (27/10/2026).

“Di atas ibu kota ini ada tiga kampung lagi. Tiga kampung ini ke atas itu tidak bisa dilewati darat, jadi harus dilewati sungai, perahu yang bermesin di belakang itu. Nah, ke sana itu banyak riam yang harus ditembus, air deras yang berbatu. Itu butuh 2 sampai 3 jam,” ujar Arman.

Jalur air yang menjadi tumpuan utama tersebut mengalami surut parah, sementara jalur darat baru dapat kembali dilalui setelah melalui proses perbaikan dalam waktu sekitar dua pekan.

“(Sungai) surut sekali. Dalam waktu kurang lebih dua minggu inilah jalan daratnya baru bisa ditembus,” tuturnya.

Dampak Kerusakan Infrastruktur Jalan

Sebelum jalur darat kembali dibuka, kendaraan hanya mampu mencapai titik tertentu dan pengiriman bantuan wajib dilanjutkan memakai perahu berukuran kecil. Kerusakan jalan diperparah oleh jembatan kayu yang hancur saat musim hujan serta badan jalan yang tertutup semak belukar.

“Dulu tidak ada perawatan, jadi pas hujan itu jembatannya hancur. Tidak bisa dilewati, jalannya hancur, habis itu tumbuhan tumbuh di jalan. Jadi tidak bisa akses darat, untuk pakai motor pun tidak bisa,” terang Arman.

Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok Warga

Kelangkaan akses transportasi darat dan air ini memicu lonjakan harga barang kebutuhan pokok di tengah masyarakat setempat. Selain beras yang mencapai Rp 1 juta per karung, harga gas elpiji tabung 12 kilogram di ibu kota kecamatan menembus angka Rp 750.000 dan gas 3 kilogram dihargai hingga Rp 300.000.

“Kalau beras di atas (Kampung Mahulu) itu kurang lebih, yang 25 kilo itu saja Rp 1 juta. Kalau gas di ibu kota kecamatan Rp 750.000 yang 12 kilo, untuk gas yang 3 kilo itu sampai Rp 300 ribu. (Dibeli) mau tak mau mereka tetap membeli meski mahal, sisanya untuk meringankan mereka mengandalkan hasil ladang,” kata Arman.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *