Daftar Isi
Jepang yang selama ini dikenal berpengalaman menjadi tuan rumah ajang kelas dunia justru menghadapi berbagai persoalan dalam penyelenggaraan Asian Games di Nagoya dan wilayah Prefektur Aichi. Berbagai masalah mulai dari kesalahan diplomatik, kekeliruan layanan transportasi, hingga kekacauan akomodasi membuat ajang ini disorot publik.
Rangkaian Masalah Akomodasi dan Insiden
Sebelum turnamen dimulai, para peserta sudah mengeluhkan minimnya kamar dan buruknya kualitas akomodasi. Panitia memutuskan tidak membangun perkampungan atlet untuk menekan biaya, melainkan menempatkan peserta di hotel serta unit hunian bergaya kontainer di Nagoya. Seorang petinggi federasi basket Korea Selatan mengatakan para atlet bertubuh tinggi yang ditempatkan di kontainer kesulitan meluruskan kaki di atas tempat tidur.
Penambahan peserta pada menit-menit terakhir turut membebani kapasitas kota, sehingga sebuah kapal pesiar Italia dengan 1.500 kabin harus digunakan untuk menutupi kekurangan. Wakil Direktur Jenderal Asian Games, Takaaki Omi, menjelaskan kepada BBC News Indonesia bahwa panitia awalnya menyiapkan akomodasi untuk 15.000 anggota kontingen, namun jumlah peserta bertambah 2.000 orang setelah cabang olahraga tambahan dimasukkan.
Sepanjang turnamen, para atlet sempat diantar ke lokasi pertandingan yang salah, lagu kebangsaan Korea Utara keliru diputar untuk tim hoki putra Korea Selatan, dan bendera Korea Selatan tidak dikibarkan dengan benar pada upacara penyerahan medali emas sepak bola putra. Selain itu, Menteri Olahraga Taiwan sempat dilarang menghadiri acara pengibaran bendera.
Omi mengakui penyelenggaraan dengan jumlah peserta yang bahkan lebih besar daripada Olimpiade Paris ini menimbulkan ketidaknyamanan signifikan. Menurutnya, panitia terus mendengarkan masukan dari para atlet dan langsung menindaklanjutinya dengan perbaikan.
Sorotan Kontrak dan Perusahaan Pengelola
Media lokal menyoroti perusahaan yang bertanggung jawab mengelola operasional venue, yakni anak perusahaan Jepang dari GL Events asal Prancis, yang memenangkan kontrak senilai 63 miliar yen atau sekitar Rp6,7 triliun. Perusahaan tersebut mengungguli Dentsu Group yang tersingkir usai tersandung vonis pidana persekongkolan tender. Sebuah sumber menyebut kepada kantor berita Kyodo bahwa tawaran GL Events jauh lebih murah dibandingkan penyedia jasa lainnya.
Surat kabar Tokyo Shimbun menuduh perusahaan tersebut memangkas biaya secara agresif dalam perekrutan tenaga kerja, yang berujung pada kekurangan staf berpengalaman dan minimnya pelatihan bagi pekerja. Kendati demikian, Takaaki Omi menegaskan bahwa GL Events memiliki pengalaman dalam ajang olahraga internasional seperti Olimpiade Paris dan lingkungan kompetisi telah dipersiapkan melalui koordinasi menyeluruh.
Prof Kozo Tomiyama, peneliti ajang olahraga besar dari Universitas Osaka, menilai persoalan timbul karena cakupan tanggung jawab yang diberikan kepada perusahaan tersebut sangat luas. Ia berpendapat penting untuk meninjau kriteria yang digunakan penyelenggara dalam menilai kemampuan kontraktor serta pengawasannya.
Evaluasi dan Berlanjutnya Gangguan
Situasi tersebut dinilai bertolak belakang dengan standar keramahan tulus atau omotenashi yang biasanya ingin ditampilkan Jepang kepada dunia, hingga pejabat harus menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Korea Selatan. Di sisi lain, Direktur Jenderal Dewan Olimpiade Asia, Husain al-Musallam, menyoroti keberhasilan terciptanya 54 rekor dunia baru sebagai bukti kesuksesan ajang tersebut, dengan menyatakan bahwa pencapaian itu tidak mungkin diraih tanpa lingkungan terbaik bagi para atlet.
Meski Asian Games telah berakhir, gangguan masih terjadi dalam ajang Paralimpiade yang menyusul, termasuk pemutaran lagu kebangsaan yang salah dalam tiga acara. Wali Kota Nagoya sekaligus wakil ketua panitia penyelenggara, Ichiro Hirosawa, menyebut insiden tersebut tidak dapat diterima dan menyampaikan permintaan maaf.
Kiprah Kontingen Indonesia
Kontingen Indonesia gagal menambah perolehan medali emas hingga sehari menjelang penutupan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang berakhir pada Minggu (04/10). Sampai Sabtu (03/10), kontingen Merah Putih mengoleksi lima medali emas, 11 medali perak, dan 23 medali perunggu yang menempatkan mereka di peringkat ke-16 dari total 46 kontingen peserta.
Lima medali emas Indonesia masing-masing disumbangkan oleh tim bulu tangkis beregu putra, pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando dan Daniel Marthin, lifter kelas 75 kg Rahmat Erwin Abdullah, atlet panjat tebing nomor speed putri Desak Made Rita Kusuma Dewi, serta pemanah compound putri Nurisa Dian Ashrifah.
Sumber: BBC News Indonesia








