Nasional

Palembang Diguyur Hujan Lebat Usai Berbulan-bulan Kemarau dan Asap

Palembang Diguyur Hujan Lebat Usai Berbulan-bulan Kemarau dan Asap
Daftar Isi
  1. Membawa Berkah Air Bersih
  2. Faktor Pembentukan Awan Hujan
  3. Prediksi dan Imbauan BMKG

Sejumlah kawasan di Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai diguyur hujan lebat pada Sabtu (24/10). Curah hujan tersebut disambut dengan suka cita oleh masyarakat setelah daerah itu dilanda musim kemarau panjang selama lebih dari tiga bulan.

Membawa Berkah Air Bersih

Fudin, warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang, mengungkapkan rasa syukurnya atas turunnya hujan tersebut. Menurutnya, hujan yang mulai turun sekitar pukul 15.30 WIB itu membawa berkah bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih dan terdampak kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

Akibat kemarau panjang, kabut asap kebakaran lahan menyelimuti Kota Palembang selama beberapa bulan terakhir hingga mengganggu kesehatan masyarakat. Hal senada juga disampaikan oleh Yuli, warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu Palembang, yang mengaku kesulitan mendapatkan air bersih dan terpaksa harus membeli air dengan harga yang cukup mahal untuk kebutuhan sehari-hari.

Faktor Pembentukan Awan Hujan

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan terdeteksi melalui pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu pukul 07.00 WIB. Dinamika pergerakan angin vertikal berhasil memecah lapisan inversi, yaitu lapisan atmosfer penghambat yang mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.

Selain faktor alam, potensi hujan ini juga didorong oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara hybrid yang dilakukan tim gabungan. Tim menyebar material dry ice serta bahan semai NaCl secara intensif di udara guna mengurai gumpalan kabut asap karhutla di Sumatera Selatan.

Prediksi dan Imbauan BMKG

Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan sebelumnya memprediksi wilayah tersebut mulai mengalami hujan pada 24 hingga 26 Oktober 2026 setelah kemarau panjang lebih dari empat bulan, di mana beberapa wilayah tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari.

Terkait kualitas air, pihak Stasiun Klimatologi menyatakan bahwa hujan pertama setelah kemarau panjang tidak otomatis berbahaya. Kendati demikian, debu, partikulat, dan polutan dari pembakaran yang terakumulasi di atmosfer dapat terbawa bersama air hujan ke permukaan, sementara air hujan sendiri secara alami bersifat sedikit asam akibat interaksi dengan karbon dioksida di atmosfer.

Guna menghadapi hujan pertama ini, Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumsel membagikan sejumlah langkah bijak kepada masyarakat, antara lain menghindari kontak langsung secara berlebihan dengan air hujan di wilayah terdampak pencemaran, membilas kulit dengan air bersih jika terkena air hujan, serta menghindari penggunaan air hujan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *