Daftar Isi
Penyalahgunaan ketamin di kalangan anak muda mengalami lonjakan tajam di berbagai negara, termasuk di Indonesia yang belum lama ini menggagalkan penyelundupan satu ton ketamin ilegal. Dari sudut pandang medis, obat bius penahan rasa sakit ini kerap disalahgunakan untuk mencari efek rekreasi berupa euforia, padahal di luar dosis medis ketamin membawa dampak mematikan bagi tubuh.
Dampak Medis dan Penggolongan Ketamin
Di Indonesia, ketamin dikategorikan sebagai obat keras yang dapat memicu kerusakan saraf, gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan hati, hingga gangguan sistem pernapasan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memasukkan zat ini ke dalam daftar obat-obatan tertentu yang sering disalahgunakan, sementara Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan agar statusnya diubah dari psikotropika menjadi narkotika.
Di Inggris, tempat ketamin digolongkan sebagai obat ilegal golongan B sejak 2014, jumlah orang yang mencari pengobatan akibat gangguan penggunaan zat ini meningkat hingga dua belas kali lipat dalam satu dekade terakhir. Organisasi amal penanganan narkoba di UK, Kaleidoscope, mencatat lonjakan rujukan pasien rehabilitasi dari hanya dua orang pada 2021 menjadi 112 orang pada tahun ini, dengan mayoritas pasien berusia antara 18 hingga 24 tahun.
Pengalaman Buruk Pengguna dan Kerusakan Tubuh
Megan Harmes, kini berusia 24 tahun, mulai mencoba ketamin saat usianya baru 14 tahun. Kebiasaan tersebut semakin parah selama masa pembatasan sosial (lockdown) Covid-19 di Wales utara, di mana ia memiliki akses mudah terhadap obat berharga murah tersebut dan mampu mengonsumsinya sepanjang hari.
Penggunaan ketamin secara kronis membuat Megan kehilangan tempat magang di bidang teknik penerbangan dan merusak kandung kemihnya. Pada usia 22 tahun, ia harus mengenakan pembalut khusus inkontinensia atau popok akibat rasa sakit luar biasa yang membuatnya tidak mampu berdiri tegak.
“Bagi anak muda berusia 22 tahun, harus memakai pembalut atau popok, itu benar-benar merenggut seluruh harga diri saya,” kata Megan kepada BBC News Indonesia.
Kisah serupa dialami oleh Mark, seorang pria yang mulai menggunakan narkoba pada usia 18 tahun dan mengonsumsi kokain serta ketamin dalam jumlah besar di usia 21 tahun. Kerusakan struktur hidungnya akibat terus-menerus menghirup obat serta gangguan fisik membuat tubuhnya yang berusia 25 tahun terasa seperti orang berusia 80 tahun, disertai penderitaan saat buang air kecil yang kerap mengeluarkan gumpalan darah.
Adaptasi Layanan Kesehatan dan Penelitian
Jo Moore dari fasilitas rehabilitasi Birchwood milik Kaleidoscope menyatakan bahwa separuh dari klien mereka saat ini mendapatkan pendampingan akibat penggunaan ketamin. Menurutnya, harga yang sangat murah dan kemudahan mendapatkan obat tersebut menjadi pemicu utama konsumsi dalam jumlah besar.
Sementara itu, Dr. Darren Quelch dari University of South Wales yang memimpin penelitian terkait masalah ini mengungkapkan bahwa kelompok usia muda sering kali tidak mendapat penanganan yang tepat di unit gawat darurat atau klinik umum karena gejalanya tidak langsung dikaitkan dengan ketamin. Ia menambahkan bahwa dampak kronis ketamin memicu masalah seperti gangguan ingatan, nyeri kronis, kerusakan kandung kemih, hingga gagal ginjal yang muncul jauh lebih cepat dibandingkan alkohol atau narkotika Golongan A.
Kini, penelitian terus berjalan untuk memetakan jenis dukungan yang paling efektif bagi kelompok pasien khusus ini, sementara layanan intervensi dini di tengah masyarakat mulai diperluas untuk menekan angka pengguna baru.
Sumber: BBC News Indonesia








