Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati, mengingatkan para pengusaha agar pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia tidak menggerus lapangan pekerjaan. Rahayu meminta dunia usaha memastikan teknologi tersebut dipakai untuk mendongkrak produktivitas, bukan menggantikan posisi tenaga kerja manusia.
Tantangan Bonus Demografi di Indonesia
Menurut Rahayu, Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dari negara-negara tanpa bonus demografi yang mengembangkan teknologi guna menyiasati keterbatasan tenaga kerja. Di sisi lain, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar namun ketersediaan lapangan kerjanya masih terbatas. Kondisi tersebut menuntut pertimbangan matang dalam menerapkan inovasi teknologi di dalam negeri.
“Kalau kita menggunakan teknologi itu di Indonesia, yang di mana kita punya memiliki lebih banyak manusia daripada lapangan pekerjaan, tentunya akan terjadi permasalahan yang besar,” ujar Rahayu saat menghadiri Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Ia menekankan perlunya kesadaran dari kalangan pengusaha yang berniat membawa teknologi baru ke Tanah Air agar fokus pada peningkatan produktivitas tanpa menghilangkan kesempatan kerja masyarakat. Rahayu juga menilai penanganan persoalan ini tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor atau heksaheliks yang melibatkan dunia usaha dan berbagai pihak terkait.
Kolaborasi dan Penyerapan Aspirasi Pemuda
Dalam kesempatan yang sama, Rahayu memberikan apresiasi kepada generasi muda yang telah berkontribusi melalui berbagai bidang seperti wirausaha, peneliti, hingga akademisi. Potensi tersebut diharapkan semakin kuat melalui komunikasi dan kerja sama lintas latar belakang, salah satunya lewat wadah Rembuk Pemuda untuk bertukar gagasan serta merumuskan solusi.
Selain fokus pada isu teknologi, wadah tersebut juga menghimpun aspirasi pemuda dari 29 provinsi untuk diteruskan kepada pemerintah. Berbagai masukan daerah yang dikumpulkan mencakup isu lapangan pekerjaan, UMKM, hilirisasi, industri, keuangan, kebijakan fiskal, hingga sektor pertanian dan perkebunan.
Rahayu berharap forum pemuda tidak sekadar berhenti pada tahap diskusi atau perdebatan, melainkan mampu menghasilkan kesimpulan dan solusi nyata. Ia menyayangkan komunikasi satu arah yang kerap terjadi di media sosial, sehingga keberadaan ruang diskusi langsung di daerah harus berujung pada dampak positif bagi masyarakat setempat.
Sumber: Liputan6.com News








