Pendidikan

Cak Imin Minta Pola Pembinaan Sekolah Rakyat Diubah

Cak Imin Minta Pola Pembinaan Sekolah Rakyat Diubah
Daftar Isi
  1. Ubah Cara Pandang Pengelolaan
  2. Fasilitasi Minat Non-Akademik
  3. Kronologi dan Penanganan Kasus

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar angkat bicara terkait insiden kekerasan yang menimpa tiga murid sekolah rakyat oleh mahasiswa Universitas Pertahanan yang tengah magang. Muhaimin menegaskan bahwa metode pembelajaran di lembaga tersebut harus disesuaikan dengan karakter serta potensi individu, alih-alih menggunakan pendekatan militeristik.

Ubah Cara Pandang Pengelolaan

Muhaimin meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan sekolah rakyat agar mengubah cara pandang dalam mendidik para siswa. Menurutnya, pendekatan tidak boleh diseragamkan seperti kegiatan baris-berbaris karena setiap anak memiliki kelebihan dan titik lemah masing-masing yang unik.

“Saya meminta kepada semua yang terlibat di dalam pengelolaan sekolah rakyat supaya mengubah cara pandang,” ujar Muhaimin kepada media, Selasa (27/10/2026).

Ia menuturkan, seorang siswa mungkin tidak menguasai keterampilan baris-berbaris, namun memiliki keahlian di bidang seni, berpotensi menjadi pelukis, atau menguasai bidang teknologi. Sementara itu, siswa dengan kemampuan akademis yang menonjol dapat dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Fasilitasi Minat Non-Akademik

Cak Imin menambahkan bahwa para siswa yang mempunyai minat di luar jalur akademik formal wajib terfasilitasi dengan baik karena sebagian anak justru memiliki bakat besar pada bidang kreatif. Oleh sebab itu, ia mengingatkan para pengelola agar memahami perbedaan spesifikasi setiap anak didik secara mendalam tanpa melakukan generalisasi.

“Sehingga saya sekali lagi minta kepada seluruh pembina sekolah rakyat, kalian adalah pengelola sekolah rakyat dengan spesifikasi yang sangat berbeda-beda. Tidak bisa digeneralisasi,” tegasnya.

Kronologi dan Penanganan Kasus

Peristiwa kekerasan tersebut bermula pada Minggu (18/10/2026) malam ketika tindakan pendisiplinan terhadap siswa yang kedapatan merokok berujung pada penganiayaan fisik, sehingga beberapa korban harus mendapatkan perawatan di puskesmas.

Meskipun terduga pelaku telah meminta maaf melalui proses mediasi yang dikawal Kodim, pihak keluarga bersama Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Jember memastikan bahwa proses hukum tetap berjalan.

Seluruh mahasiswa magang Unhan di Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, telah ditarik sejak Kamis (22/10/2026) sore, sementara kondisi fisik serta psikologis para korban dilaporkan berangsur membaik. Sebagai langkah pencegahan ke depan, pihak sekolah berencana merombak total sistem pengawasan internal, yang mencakup pemasangan kamera pengawas.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *