Ekonomi

Realita Pahit Bursa Kerja: Ribuan Lamaran Minim Kepastian

Realita Pahit Bursa Kerja: Ribuan Lamaran Minim Kepastian
Daftar Isi
  1. Perjuangan Lulusan Baru dan Pekerja Senior
  2. Tanggapan Dinas Ketenagakerjaan
  3. Indikator Keberhasilan Penyerapan Tenaga Kerja

Bursa kerja atau job fair sering kali dipenuhi pencari kerja yang mendatangi stan perusahaan demi mendapatkan pekerjaan impian. Namun, di balik keramaian tersebut, tidak sedikit pelamar yang harus pulang tanpa membawa kepastian apa pun setelah menyebar puluhan lamaran.

Perjuangan Lulusan Baru dan Pekerja Senior

Eva (24), seorang lulusan jurusan Psikologi dari kampus swasta di Jakarta, telah mengirimkan puluhan lamaran sejak lulus pada Februari lalu. Ia mengikuti berbagai bursa kerja, membeli kelas sertifikasi, hingga mencoba program Magang Hub, tetapi belum juga mendapatkan panggilan wawancara. Ia tidak membatasi sektor perusahaan yang dilamar, asalkan posisinya sesuai di bagian HR atau Admin.

Senada dengan Eva, Nadiva seorang lulusan baru dari Yogyakarta juga aktif mendatangi berbagai bursa kerja meski harus merogoh kocek lebih dari Rp50.000 untuk sekali jalan dari Depok. Selain biaya transportasi dan cetak CV, Nadiva kerap menemui kendala transparansi informasi perusahaan di brosur. Meski demikian, keduanya tetap berusaha optimis di tengah lelahnya menanti kepastian kerja.

Perjuangan berbeda dialami oleh Jupri (59) yang harus kembali mencari pekerjaan setelah tiga tahun menganggur akibat perusahaan pelayaran tempatnya bekerja di Tanjung Priok kalah tender. Faktor usia menjadi tantangan tersendiri bagi Jupri di tengah persaingan dengan pencari kerja yang jauh lebih muda, kendati semangat kerjanya belum pernah padam.

Tanggapan Dinas Ketenagakerjaan

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, Syaripudin, menjelaskan bahwa pihaknya merencanakan 13 kegiatan bursa kerja sepanjang 2026. Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, terdapat 358 perusahaan yang berpartisipasi dengan rincian penempatan sebanyak 750 orang, dalam proses seleksi 6.342 lamaran, dalam proses tes 3.015 lamaran, serta dalam proses wawancara 1.102 lamaran.

Syaripudin menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah sekadar formalitas belaka. Perusahaan yang dilibatkan telah melalui seleksi ketat, mulai dari kepemilikan lowongan yang riil hingga kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan. Ia menambahkan bahwa faktor terbesar yang memengaruhi penyerapan tenaga kerja tetap berasal dari kompetensi pencari kerja itu sendiri.

Indikator Keberhasilan Penyerapan Tenaga Kerja

Syaripudin menyebutkan bahwa indikator utama keberhasilan bursa kerja adalah memperpendek masa transisi lulusan baru dari dunia pendidikan menuju dunia kerja. Merujuk pada kajian LPEM UI, bursa kerja dinilai sebagai pintu yang efektif bagi pelamar untuk berinteraksi langsung dengan perusahaan dan memahami kebutuhan dunia kerja.

Untuk memastikan efektivitas tersebut, Disnakertransgi DKI Jakarta terus melakukan pemantauan berkala melalui komunikasi dengan perusahaan peserta guna mengetahui jumlah pelamar yang benar-benar diterima bekerja. Pihaknya juga kerap menggabungkan kegiatan bursa kerja dengan program peningkatan keterampilan serta diskusi karier.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *