Ekonomi

Mesin Pengering Gabah Bantu Petani Oransbari Tingkatkan Nilai Jual

Mesin Pengering Gabah Bantu Petani Oransbari Tingkatkan Nilai Jual
Daftar Isi
  1. Pemanfaatan Teknologi dan Kunjungan Menteri
  2. Peningkatan Nilai Jual Beras dan Produk Turunan
  3. Inovasi Pendukung dan Apresiasi

Petani transmigran di Distrik Oransbari, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, kini dapat mengeringkan gabah tanpa harus bergantung pada cuaca cerah selama berhari-hari. Sebuah mesin pengering berkapasitas dua ton hasil pengembangan Tim Ekspedisi Patriot Institut Teknologi Sepuluh Nopember memangkas durasi pengeringan dari sebelumnya tiga hingga tujuh hari menjadi belasan jam saja.

Pemanfaatan Teknologi dan Kunjungan Menteri

Teknologi tersebut membantu mempercepat penanganan hasil panen sekaligus mengatasi kebiasaan penjemuran manual di jalan raya yang selama ini mengganggu kelancaran lalu lintas. Operasional mesin pengering itu juga didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Surya guna menyiasati keterbatasan pasokan listrik di wilayah tersebut.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung operasional mesin bersama warga setempat. Dalam keterangan tertulis pada Sabtu (31/10/2026), ia menyatakan bahwa kehadiran teknologi di kawasan transmigrasi harus menjawab kebutuhan riil masyarakat serta mendongkrak pendapatan warga.

“Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim ekspedisi patriot dalam gerakan transmigrasi patriot, bahwa hari ini transmigrasi bukan lagi sekedar memindahkan penduduk, tetapi membangun satu kawasan ekonomi,” ujar Iftitah.

Peningkatan Nilai Jual Beras dan Produk Turunan

Rangkaian pengolahan pascapanen tidak hanya berhenti pada pengeringan gabah, melainkan dilengkapi fasilitas pemilahan beras yang memberikan kesempatan bagi petani untuk memasarkan produk bermutu lebih tinggi. Beras utuh berkualitas premium hasil pemilahan tersebut bernilai jual antara Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per kilogram dari harga awal sekitar Rp 12.000 per kilogram.

Sementara itu, beras menir yang sebelumnya hanya laku dijual sebagai pakan ternak seharga Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram kini diolah menjadi tepung beras dengan harga jual sekitar Rp 18.000 per kilogram, sebelum dikurangi biaya pengolahan. Pengelolaan tepung beras ini dijalankan oleh Badan Usaha Milik Desa setempat untuk memenuhi kebutuhan UMKM seperti pembuat peyek dan kue, serta telah mengantongi Nomor Induk Berusaha.

Inovasi Pendukung dan Apresiasi

Di samping sektor padi, tim ITS turut menghadirkan berbagai teknologi lain yang mencakup bidang pertanian, perikanan, serta fasilitas pelayanan dasar. Inovasi tersebut meliputi reaktor biogas yang menghasilkan pupuk organik cair sebanyak 50 liter per hari serta teknologi pengasapan ikan yang mempercepat proses produksi dari dua hari menjadi paling lama dua jam.

Untuk kebutuhan domestik, tim membangun instalasi pompa air bersih beserta menara tandon yang mencukupi kebutuhan 35 keluarga, di samping mengembangkan situs promosi serta aplikasi administrasi Badan Usaha Milik Desa. Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan bahwa kegiatan ini melibatkan 100 mahasiswa dari 20 tim di tiga distrik serta 20 dosen untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung bagi masyarakat, dengan rencana kelanjutan melalui skema Kuliah Kerja Nyata tematik.

Wakil Bupati Manokwari Selatan Mesak Inyomusi menyampaikan apresiasi atas seluruh rangkaian inovasi yang dinilai tepat sasaran dalam menjawab kebutuhan warga dari sektor pertanian hingga ketersediaan air bersih.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *