Daftar Isi
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali menyelimuti wilayah Malaysia dan memicu gangguan kesehatan bagi warga setempat. Kondisi ini membuat kasus infeksi saluran pernapasan atas meningkat serta memaksa sejumlah sekolah dan aktivitas luar ruangan ditutup.
Dampak Kesehatan dan Peningkatan Biaya Medis Warga
Nor Amira Mohammad Ghaus, seorang pelatih kebugaran berusia 34 tahun yang tinggal di Lembah Klang, mengalami serangan asma yang jauh lebih sering dalam dua hingga tiga pekan terakhir. Berdasarkan laporan BBC News Indonesia, Amira bahkan tetap kesulitan bernapas meskipun sudah menyalakan alat pembersih udara di dalam kamarnya. Ia harus membatasi seluruh aktivitas luar ruangan dan mengeluarkan biaya sekitar RM1.000 untuk membeli obat-obatan, inhaler, nebuliser, serta pemurni udara.
Persoalan serupa dialami oleh Normazura Mohd Tahir, 65 tahun, warga Shah Alam yang menderita eksim. Kabut asap membuat penyakit kulitnya semakin sering kambuh dan memaksanya mengeluarkan biaya antara RM200 hingga RM300 setiap bulan untuk membeli krim kulit serta masker. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Malaysia, kasus infeksi saluran pernapasan atas meningkat sekitar 10 persen dalam sepekan, dari 3.509 kasus menjadi 3.875 kasus pada Oktober.
Respons Pemerintah dan Kebijakan Penutupan Sekolah
Departemen Lingkungan Hidup Malaysia melaporkan sebanyak 38 area di Semenanjung Malaysia mencatatkan indeks pencemaran udara pada tingkat tidak sehat. Pemerintah Malaysia mewajibkan penutupan sekolah dan pusat penitipan anak apabila bacaan indeks melampaui 200, sementara sekolah-sekolah di Johor ditutup hingga 23 Oktober.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa dirinya telah berbicara langsung dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto terkait penanganan kabut asap. Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyatakan dalam konferensi pers bahwa pemerintah Indonesia masih yakin mampu menangani krisis tersebut dengan sumber daya nasional.
Sorotan Ekonomi dan Keterlibatan Perusahaan
Profesor ekonomi Universitas Sunway, Dr. Yeah Kim Leng, memperkirakan Malaysia merugi antara RM20 juta hingga RM50 juta per hari akibat kabut asap. Sementara itu, kepala ekonom MARC Ratings, Ray Choy, memperkirakan krisis tahun 2026 ini dapat merugikan ekonomi Malaysia sekitar US$250 juta setiap bulan akibat penurunan pariwisata, penerbangan, serta produktivitas konstruksi dan transportasi.
Di tengah situasi ini, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia melaporkan bahwa dari 93 perusahaan yang terindikasi terlibat kebakaran hutan dan lahan, 27 di antaranya merupakan perusahaan sawit yang terafiliasi dengan kelompok usaha Malaysia, termasuk Sime Darby Group dan Genting Group. Greenpeace Malaysia dan Pantau Gambut juga menyebut sedikitnya 20 perusahaan memiliki keterkaitan dengan grup usaha di Malaysia dan Singapura, meski pihak Sime Darby Plantation dan Kuala Lumpur Kepong telah memberikan klarifikasi bantahan atas keterlibatan langsung di area konsesi mereka.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per Rabu, terdapat 6.563 titik panas yang terpantau dengan 248 titik api aktif di Indonesia, di mana sebagian besar lokasi kebakaran berada di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.
Sumber: BBC News Indonesia








