Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjalankan politik persatuan nasional dengan merangkul seluruh kekuatan di tengah perbedaan. Dia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengutamakan kepentingan rakyat serta menjaga persatuan di tengah berbagai pandangan dan kritik.
Politik Persatuan Nasional
“Rakyat kita semakin pandai, pemimpin-pemimpin kita di ujungnya akan menjaga persatuan dan itulah yang sekarang saya jalankan, politik saya adalah politik persatuan nasional. Saya ingin merangkul semua kekuatan, marilah kita tanamkan perbedaan-perbedaan kita,” ujar Prabowo saat memimpin sidang kabinet paripurna dua tahun pemerintahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026), seperti dilaporkan Liputan6.com.
Prabowo menginginkan agar masyarakat Indonesia dapat hidup sejahtera dan damai dengan menjunjung nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut mencakup sikap saling menghormati serta mendukung satu sama lain di antara warga negara.
“Marilah kita bersatu untuk kepentingan yang besar, kepentingan rakyat Indonesia hidup sejahtera, rakyat Indonesia hidup damai, rakyat Indonesia hidup dalam suasana Pancasila, suasana saling menghormati, saling mendukung, saling mengasihi,” jelasnya.
Menurut Prabowo, perbedaan pandangan, kompetisi, kritik, serta koreksi merupakan bagian penting dalam kehidupan berbangsa. Meskipun demikian, seluruh dinamika tersebut harus tetap berlandaskan pada komitmen bersama untuk menjaga persatuan nasional.
“Perbedaan bagus, kompetisi perlu, saling kritik, saling koreksi sangat perlu, tapi di ujungnya kita harus menjaga persatuan,” tutur Prabowo.
Tanggapan Kritik Kabinet dan Penanganan Karhutla
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo turut merespons kritik yang menyebut Kabinet Merah Putih terlalu besar dan tidak efisien. Ia menjelaskan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang hampir mencapai 300 juta jiwa serta luas wilayah yang setara dengan benua Eropa menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Kita dituduh kabinet gemuk, ya kan? Tidak efisien. Tapi Saudara-saudara, saya ingatkan, negara kita hampir 300 juta. Negara kita fisiknya sebesar Eropa,” kata Prabowo.
Lebih lanjut, Prabowo menyinggung kemampuan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan domestik, termasuk penanganan bencana alam serta kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah terus berupaya menangani berbagai kejadian tersebut secara kompak sekaligus melakukan evaluasi.
“Dan kita mampu mengendalikannya. Ada bencana alam, kita hadapi. Sumatra bagian utara kemarin habis-habisan kita turun. Gempa bumi, apa itu, Krakatau, Karhutla, kita kompak, kita hadapi. Kita tidak puas, kita belajar,” jelasnya.
Terkait masalah kebakaran hutan dan lahan, Prabowo menilai bahwa peristiwa tersebut tidak hanya disebabkan oleh faktor alam semata. Oleh karena itu, ia meminta kepada aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk menyelidiki dugaan keterlibatan korporasi dalam kasus kebakaran tersebut.
“Menurut saya harus kita sikapi dengan hati-hati, dengan teliti. Saya minta kepolisian, kejaksaan, Kementerian Kehutanan dibantu TNI, dibantu intelijen untuk selidiki karena ternyata banyak korporasi-korporasi ikut bertanggung jawab,” pungkas Prabowo.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








