Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa arah pembangunan Ibu Kota tidak hanya berfokus pada proyek fisik semata, melainkan harus berorientasi pada keberpihakan terhadap kelompok rentan. Pernyataan ini disampaikan Pramono dalam acara Dialog dan Orasi Kebangsaan bertajuk “Jakarta dan Problematika Kebangsaan” di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (19/10).
Tiga Prioritas Utama Pembangunan
Pramono menjelaskan, indikator keberhasilan kota seharusnya diukur dari kemampuan pemerintah memperluas jangkauan pendidikan, layanan kesehatan, serta perlindungan sosial. Bersama Wakil Gubernur Rano Karno, ketiga sektor tersebut dijadikan prioritas utama guna memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Menurutnya, perhatian pemerintah wajib menjangkau pekerja sektor informal, pengemudi transportasi umum, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga generasi muda yang membutuhkan ruang untuk berkembang. Pembangunan Jakarta dinilai perlu membuka peluang bagi peningkatan kualitas hidup warga secara menyeluruh.
“Tugas seorang pemimpin yaitu melanjutkan hal-hal baik yang belum selesai, memperbaiki apa yang masih kurang, dan memastikan setiap kebijakan memberikan manfaat yang nyata,” ujar Pramono.
Kolaborasi Wujudkan Kota Global
Acara yang diselenggarakan oleh DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta tersebut juga menjadi sarana untuk mengajak berbagai pihak berkolaborasi. Pramono meminta para alumni GMNI dan elemen masyarakat lainnya ikut mengawal arah kebijakan kota agar lebih responsif terhadap kebutuhan publik.
Ia menekankan bahwa masa depan Jakarta sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, hingga masyarakat sipil. Selain itu, nilai-nilai Pancasila juga harus diterjemahkan secara nyata ke dalam kebijakan publik yang inklusif.
“Peran tersebut semakin penting karena masa depan Jakarta tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Ia ditentukan oleh bagaimana pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat sipil, komunitas, media, dan seluruh warga bekerja berdasarkan kepentingan bersama,” tuturnya.
Pramono berharap kerja sama lintas sektor ini dapat mendorong Jakarta bertransformasi menjadi kota global tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan, pemerataan pembangunan, dan identitas kebangsaan Indonesia.
“Mari kita hadirkan pembangunan yang bukan hanya cepat, tetapi berada di arah yang tepat untuk menjadi kota global yang nyaman bagi warganya, produktif bagi perekonomian, berkelanjutan bagi generasi berikutnya, sekaligus terbuka kepada dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bagian dari Indonesia,” pungkas Gubernur Pramono.








