Nasional

Kabut Asap Karhutla Palembang Bikin Omset Pedagang Anjlok

Kabut Asap Karhutla Palembang Bikin Omset Pedagang Anjlok

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membekap Palembang, Sumatera Selatan, selama berbulan-bulan tidak hanya menurunkan kualitas kesehatan warga, tetapi juga mengancam perekonomian masyarakat. Kondisi udara yang buruk membuat aktivitas di berbagai sektor lumpuh dan merugikan para pedagang kecil.

Keluh Kesah Pedagang di Tengah Asap

Salah satu warga yang terdampak adalah Yana (51), pedagang pempek yang sudah belasan tahun berjualan di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang. Yana menceritakan bahwa omsetnya anjlok drastis akibat situasi tersebut. Jika biasanya dalam sehari ia bisa meraup setidaknya Rp1 juta, kini untuk menutup modal pun tidak cukup seperti dilaporkan CNN Indonesia.

Penyebab sepinya pembeli dikarenakan pihak kampus memberlakukan kuliah secara daring selama hampir satu bulan akibat kabut asap. Kantin yang biasanya dipadati mahasiswa kini menjadi sunyi. Yana berharap pihak kampus dapat segera menghentikan perkuliahan online dan kabut asap bisa segera hilang dari langit Palembang.

Langkah Penanganan BNPB

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaiki metode penghitungan luas karhutla menggunakan citra satelit demi meningkatkan akurasi pemantauan. Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi menyampaikan laporan tersebut kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).

BNPB menetapkan lima provinsi sebagai prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Kristomei menyebutkan bahwa peningkatan kejadian karhutla tercatat di Sumatera Selatan dan Jambi, namun kenaikannya belum terlalu signifikan.

Di samping perbaikan pemantauan, BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai es kering untuk memicu hujan. Kristomei mengatakan sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disemai sejak 20 Oktober melalui lima sorti penerbangan, termasuk 800 kilogram dalam satu sorti di Sumatera Selatan.

Upaya modifikasi cuaca tersebut diklaim membuahkan hasil berupa penurunan kadar polusi udara atau particulate matter (PM 2,5) serta peningkatan jarak pandang atau visibility di Palembang dari 700 meter menjadi 7.000 meter. BNPB terus melanjutkan pemantauan serta penanganan karhutla di wilayah-wilayah prioritas tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *