Ekonomi

Pembelian BBM Ganjil-Genap di Bali Diperpanjang

Pembelian BBM Ganjil-Genap di Bali Diperpanjang
Daftar Isi
  1. Kondisi Cadangan dan Manajemen Distribusi
  2. Dampak Luas terhadap Aktivitas Warga
  3. Evaluasi Masalah Rantai Pasok Nasional

Gubernur Bali Wayan Koster memutuskan untuk memperpanjang penerapan mekanisme antrean ganjil-genap dalam pembelian bahan bakar minyak (BBM) hingga Jumat (23/10). Kebijakan pengaturan berdasarkan pelat nomor kendaraan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Senin (19/10).

Melalui sistem ini, giliran pengisian BBM disesuaikan dengan digit terakhir pelat nomor kendaraan bermotor. Angka terakhir ganjil dilayani pada tanggal ganjil, sedangkan pelat bernomor genap mengantre pada tanggal genap. Evaluasi akan kembali dilakukan jika situasi pasokan dinilai membaik sebelum batas waktu tersebut, sebagaimana dijelaskan Koster di Depot Pertamina Pesanggaran, Denpasar Selatan.

Kondisi Cadangan dan Manajemen Distribusi

Data Pertamina mencatat ketersediaan cadangan BBM di Bali rata-rata berkisar 11 hingga 12 hari, berada di bawah batas cadangan nasional yang mencapai 16 sampai 18 hari. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menerangkan fasilitas penampungan bahan bakar di Pulau Dewata terbagi di Pesanggaran dengan kapasitas 3-4 hari serta Manggis yang mencapai lebih dari 11 hari.

Untuk mengurai hambatan, Kementerian ESDM menginstruksikan Pertamina menaikkan cadangan daerah menjadi 15 hari. Bahlil juga meminta pasokan dari Jawa dipercepat serta menambah armada kapal pengangkut dari tiga menjadi tujuh unit. Ia menyatakan persoalan kelangkaan di Bali berakar dari kendala teknis dalam rantai logistik Pertamina, bukan defisit ketersediaan bahan bakar.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri sempat menerangkan gangguan bongkar muat kapal tanker akibat persoalan teknis saat menurunkan jangkar membuat jadwal pasokan tertunda dari pagi hingga malam hari. Selain itu, lonjakan konsumsi Pertalite harian di Bali naik dari rentang 2.000–2.100 kiloliter menjadi sekitar 2.200 kiloliter per hari.

Dampak Luas terhadap Aktivitas Warga

Hambatan pasokan memicu antrean panjang hingga berkilo-kilo meter di berbagai SPBU dan mengganggu perekonomian warga. Kepada BBC News Indonesia, seorang pengusaha katering di Denpasar bernama Lina menuturkan terpaksa menutup usaha dan kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp5 juta selama lima hari karena sepeda motornya kehabisan bensin.

Hal serupa dialami pengemudi ojek daring dan pekerja sektor perikanan. Nelayan di Pulau Menjangan, I Komang Lulut, mengaku kehilangan pendapatan harian hingga Rp4 juta lantaran kapal-kapalnya tidak bisa melaut akibat larangan pembelian bensin menggunakan jeriken di SPBU. Di sektor logistik, sopir truk angkutan pasir sempat mengantre hingga 15 jam demi memperoleh solar.

Tekanan mobilitas ini turut memengaruhi dunia pendidikan. Universitas Udayana menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh dan bekerja dari rumah (WFH) pada 14 hingga 16 Oktober demi mengurangi beban mobilitas sivitas akademika.

Evaluasi Masalah Rantai Pasok Nasional

Peristiwa di Bali menambah deretan kasus gangguan pasokan BBM daerah sepanjang tahun ini, menyusul krisis solar di Sumatra pada Juli dan kelangkaan bahan bakar di Makassar pada September. Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai kejadian berulang ini memperlihatkan kerentanan rantai pasok dan logistik nasional.

Menurut Fabby, terdapat ketidaksesuaian antara alokasi kuota BBM bersubsidi dengan kenaikan permintaan di lapangan. Disparitas harga sekitar Rp6.000 antara Pertalite dan Pertamax mendorong peralihan konsumen ke BBM penugasan. Ketergantungan terhadap impor serta dinamika pasar energi global juga dinilai memperberat pengadaan BBM nasional.

Pertamina Patra Niaga telah menyalurkan tambahan pasokan Pertalite sebanyak 48 juta liter serta mengoperasikan 66 SPBU selama 24 jam penuh di Bali untuk menormalkan distribusi bahan bakar ke masyarakat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *