Nasional

Banjir Kepung Aceh Selatan, Petani Aceh Tamiang Sulit Panen

Banjir Kepung Aceh Selatan, Petani Aceh Tamiang Sulit Panen
Daftar Isi
  1. Banjir dan Longsor di Aceh Selatan
  2. Petani Aceh Tamiang Kesulitan Panen
  3. Dampak Luas Terhadap Sektor Pertanian

Empat desa di dua kecamatan Kabupaten Aceh Selatan terendam banjir akibat hujan lebat yang memicu meluapnya air sungai. Di saat bersamaan, para petani di Kabupaten Aceh Tamiang terpaksa memanen padi secara manual di tengah genangan air setelah tanggul sungai jebol.

Banjir dan Longsor di Aceh Selatan

Kepala Pelaksanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Selatan, Mudatsir, mengatakan bahwa ketinggian banjir di empat desa tersebut mencapai sepaha orang dewasa, seperti dilaporkan CNN Indonesia. Empat desa yang terdampak meliputi Gampong Gunong Pulo dan Krueng Batee di Kecamatan Kluet Utara, serta Gampong Mersak dan Malaka di Kecamatan Kluet Tengah.

Menurut Mudatsir, hujan lebat yang berlangsung sejak Sabtu (24/10) menyebabkan daerah aliran sungai meluap dan menggenangi permukiman warga. Genangan air juga sempat menutupi jalan nasional Tapaktuan-Subulussalam, meski arus lalu lintas dilaporkan tetap lancar. Selain itu, longsor terjadi di dua titik pada jalur lintas Gunung Manggamat menuju Kotafajar, Kecamatan Kluet Selatan. Pihak BPBD mengerahkan dua unit armada pemadam kebakaran ke lokasi untuk membersihkan material lumpur akibat longsor tersebut.

Petani Aceh Tamiang Kesulitan Panen

Sementara itu, para petani di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, harus memotong padi menggunakan sabit secara manual di tengah sawah yang terendam banjir. Banjir tersebut berasal dari jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang yang merendam areal persawahan di Desa Teluk Halban.

Salah seorang petani, Sugiono, menyatakan bahwa sawahnya sudah terendam selama lebih dari sepekan dengan ketinggian air awal mencapai satu meter lebih. Petani baru bisa mulai memanen secara bertahap pada hari kesembilan, namun kondisi tanaman yang terlalu lama terendam membuat batang padi membusuk dan bulirnya berguguran.

Untuk menyelamatkan sisa hasil panen, para petani menggunakan perahu karet atau perahu terpal karena mesin pemanen tidak dapat beroperasi di area yang terendam. Petani juga mengalami kendala dalam mencari tenaga kerja karena kondisi sawah yang berat serta air yang berbau dan menimbulkan gatal.

Sistem upah panen juga berubah di mana petani dan pekerja sepakat menggunakan sistem bagi hasil masing-masing 50 persen dari hasil panen. “Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,” ujar Sugiono.

Dampak Luas Terhadap Sektor Pertanian

Kawasan persawahan yang terdampak di wilayah tersebut dikelola oleh empat kelompok tani dengan cakupan luas sekitar 25 hektare dan melibatkan lebih dari 100 orang petani. Sebelum air merendam sawah, para petani sempat berupaya memperkuat tanggul dengan bergotong royong dan berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian.

Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak, menyampaikan bahwa genangan air mulai surut namun sebagian besar area persawahan masih terendam karena saluran pembuangan air belum berfungsi optimal. Luas lahan produktif di desa tersebut mencapai 62 hektare dengan 70 persen di antaranya terdampak saat menjelang masa panen.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan Aceh Tamiang, Irwan Hadi, membenarkan bahwa insiden tanggul jebol berdampak pada ratusan hektare sawah di wilayah pesisir tersebut. Pihaknya masih menunggu proses pendataan lanjutan untuk memastikan jumlah pasti lahan yang terdampak.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *