Ekonomi

Funflation Jadi Tren Baru, Mengapa Masyarakat Tetap Belanja di Tengah Tekanan Biaya Hidup?

Funflation Jadi Tren Baru, Mengapa Masyarakat Tetap Belanja di Tengah Tekanan Biaya Hidup
Funflation Jadi Tren Baru, Mengapa Masyarakat Tetap Belanja di Tengah Tekanan Biaya Hidup
Daftar Isi
  1. Apa Itu Funflation dan Mengapa Fenomena Ini Muncul?
  2. Data Menunjukkan Pengeluaran Hobi Terus Meningkat
  3. Ketika Liburan Mahal, Hobi di Rumah Menjadi Alternatif
    1. Kenaikan biaya perjalanan ikut memengaruhi pilihan
  4. Generasi Milenial dan Gen Z Memiliki Pola Belanja Berbeda
  5. Mengapa Masyarakat Tetap Membayar untuk Kesenangan?
  6. Dampak Funflation terhadap Bisnis dan Industri Hiburan
  7. Apakah Funflation Menandakan Ekonomi yang Sehat?
  8. Apakah Fenomena Ini Juga Terjadi di Indonesia?
  9. Penutup: Kesenangan Tetap Dicari, tetapi Cara Membayarnya Berubah
  10. Sumber Berita dan Referensi

Ketika biaya hidup meningkat, pengeluaran untuk hiburan semestinya menjadi salah satu pos yang dikurangi. Namun, fenomena yang berkembang di Amerika Serikat menunjukkan gambaran berbeda.

Pengeluaran masyarakat untuk berbagai hobi justru meningkat, meskipun biaya untuk menikmati waktu luang semakin mahal.

Fenomena ini dikenal sebagai funflation, istilah yang menggambarkan kenaikan biaya untuk bersenang-senang.

Laporan CNBC Indonesia pada 28 September 2026 mengangkat fenomena tersebut dengan merujuk pada data pengeluaran konsumen Amerika Serikat.

Analisis Bank of America menunjukkan pengeluaran untuk hobi meningkat 7,9% secara tahunan pada Agustus 2026, sementara jumlah transaksi tumbuh 3,4%.

Data tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan pengeluaran tidak hanya berkaitan dengan frekuensi belanja, tetapi juga besarnya uang yang dibelanjakan.

Fenomena ini menghadirkan pertanyaan ekonomi yang menarik: ketika masyarakat menghadapi tekanan biaya hidup, apakah mereka benar-benar semakin boros, atau justru mengubah cara mereka menggunakan uang untuk memperoleh kesenangan?

Apa Itu Funflation dan Mengapa Fenomena Ini Muncul?

Istilah funflation berasal dari gabungan kata fun yang berarti kesenangan dan inflation atau inflasi. Dalam konteks ekonomi konsumen, istilah ini menggambarkan meningkatnya biaya untuk menikmati aktivitas rekreasi, hiburan, dan hobi.

Pengeluaran tersebut mencakup banyak hal, mulai dari membeli perlengkapan olahraga, bermain gim, melukis, membaca buku, berkemah, hingga melakukan aktivitas luar ruangan.

Fenomena ini tidak terbatas pada konser atau tiket pertandingan olahraga, tetapi juga menyentuh kegiatan sederhana yang dilakukan untuk mengisi waktu luang.

Yang menarik, kenaikan biaya hiburan tidak selalu membuat masyarakat menghentikan kegiatan tersebut. Sebagian konsumen justru tetap mengeluarkan uang, meskipun mereka mulai memilih jenis kegiatan yang dianggap lebih sepadan dengan biaya yang harus dibayar.

Dalam situasi ini, kesenangan bukan lagi sekadar pengeluaran tambahan. Bagi sebagian konsumen, hiburan menjadi bagian dari kebutuhan gaya hidup yang tetap ingin dipertahankan di tengah tekanan keuangan.

Namun, penting untuk membedakan kenaikan harga dengan peningkatan pengeluaran. Harga aktivitas rekreasi yang meningkat tidak otomatis berarti semua konsumen menjadi lebih boros. Kenaikan total pengeluaran bisa dipengaruhi oleh harga, jumlah pembelian, maupun perubahan jenis kegiatan yang dipilih.

Data Menunjukkan Pengeluaran Hobi Terus Meningkat

Laporan Bank of America Institute pada September 2026 memberikan gambaran mengenai perubahan tersebut di Amerika Serikat. Berdasarkan data transaksi kartu yang dianalisis lembaga itu, pengeluaran untuk hobi tumbuh 7,9% secara tahunan pada Agustus 2026. Sementara itu, pertumbuhan jumlah transaksi hanya mencapai 3,4%.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa nilai uang yang dikeluarkan untuk hobi tumbuh lebih cepat dibandingkan jumlah transaksi. Akan tetapi, data ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa harga setiap produk hobi naik tepat sebesar selisih kedua angka tersebut. Perubahan jenis barang yang dibeli dan nilai rata-rata transaksi juga dapat memengaruhi hasilnya.

Gambaran lain terlihat dari data resmi pemerintah Amerika Serikat.

IndikatorData terbaru yang dirujukMakna
Pengeluaran untuk hobiNaik 7,9% secara tahunan pada Agustus 2026Belanja hobi meningkat
Jumlah transaksi hobiNaik 3,4% secara tahunanPertumbuhan transaksi lebih lambat daripada nilai belanja
Indeks harga rekreasiNaik 2,7% dalam 12 bulan hingga Agustus 2026Harga kelompok barang dan jasa rekreasi meningkat
Penjualan ritel dan jasa makanan secara keseluruhanNaik 6% secara tahunan pada Agustus 2026Aktivitas belanja konsumen masih bertumbuh

Sumber: Bank of America Institute, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS), dan Biro Sensus Amerika Serikat.

Data tersebut menunjukkan bahwa belanja rekreasi berkembang dalam lingkungan harga yang meningkat. Namun, keempat indikator memiliki cakupan berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai ukuran yang sama.

Indeks harga rekreasi, misalnya, mencakup berbagai kategori, seperti produk audio-video, hewan peliharaan, perlengkapan olahraga, fotografi, dan bahan bacaan rekreasi. Angka itu bukan ukuran langsung seluruh biaya hiburan masyarakat.

Ketika Liburan Mahal, Hobi di Rumah Menjadi Alternatif

Salah satu penjelasan penting di balik fenomena funflation adalah perubahan pilihan konsumen.

Ketika biaya perjalanan meningkat, masyarakat dapat mengalihkan sebagian anggaran liburan ke aktivitas yang lebih dekat dengan rumah. Uang yang sebelumnya disiapkan untuk perjalanan jauh, misalnya, dapat digunakan untuk membeli perlengkapan berkemah, alat musik, buku, bahan kerajinan, atau perangkat permainan.

John Gathergood, profesor ekonomi di University of Nottingham, menjelaskan kepada CNBC bahwa kenaikan harga dapat mendorong konsumen mengganti satu aktivitas dengan aktivitas lain. Pengeluaran untuk hobi di rumah bisa meningkat ketika seseorang mengurangi perjalanan liburan atau makan di luar.

Perubahan ini penting karena pengeluaran yang meningkat pada satu kategori tidak selalu mencerminkan peningkatan konsumsi secara keseluruhan.

Seseorang mungkin mengeluarkan lebih banyak uang untuk peralatan olahraga, tetapi mengurangi anggaran perjalanan. Orang lain mungkin memilih memasak di rumah dan menggunakan sisa uangnya untuk membeli gim atau buku.

Dalam kedua kasus tersebut, konsumen tidak sepenuhnya berhenti menikmati hidup. Mereka mengubah cara memperoleh kesenangan agar sesuai dengan kemampuan keuangan.

Kenaikan biaya perjalanan ikut memengaruhi pilihan

Laporan CNBC yang menjadi rujukan artikel CNBC Indonesia juga mengaitkan perubahan tersebut dengan meningkatnya biaya penerbangan di Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, harga bahan bakar pesawat mengalami kenaikan tajam pada periode yang dibahas, sementara tarif penerbangan AS tercatat meningkat 26,5% secara tahunan berdasarkan data federal pada Agustus 2026.

Biaya perjalanan yang lebih tinggi dapat mengubah perhitungan rumah tangga. Liburan ke luar negeri atau perjalanan lintas negara bagian memerlukan anggaran besar untuk tiket pesawat, penginapan, transportasi, dan makan.

Sebaliknya, beberapa hobi dapat dilakukan secara bertahap dan dengan pengeluaran yang lebih mudah dikendalikan. Meski demikian, tidak semua hobi murah. Peralatan olahraga tertentu, perangkat gim, dan perlengkapan kegiatan luar ruangan juga dapat memerlukan biaya besar.

Karena itu, pergeseran ke hobi bukan berarti konsumen selalu mengeluarkan uang lebih sedikit. Yang berubah bisa jadi adalah jenis pengeluaran dan manfaat yang mereka cari.

Generasi Milenial dan Gen Z Memiliki Pola Belanja Berbeda

Perubahan tersebut juga terlihat pada kelompok usia yang berbeda.

Analisis Bank of America Institute menyebut milenial yang lebih tua sebagai kelompok dengan pengeluaran hobi terbesar dalam periode tiga bulan hingga Agustus 2026. Pengeluaran per konsumennya tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan Gen Z, kelompok dengan pengeluaran hobi paling rendah dalam analisis tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menarik kesimpulan dari perbedaan ini. Nilai belanja yang lebih tinggi tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih sering melakukan hobi atau lebih menikmati waktu luang. Perbedaan pendapatan, tanggung jawab keluarga, harga barang yang dibeli, dan jenis kegiatan dapat memengaruhi jumlah pengeluaran.

Bank of America juga mencatat bahwa belanja gim video per orang meningkat di berbagai kelompok usia dalam periode 12 bulan hingga Agustus 2026. Bahkan, Gen Z—kelompok dengan peningkatan terkecil dalam analisis tersebut—mencatat kenaikan belanja gim sebesar 20%.

Temuan ini memperlihatkan bahwa aktivitas digital tetap menjadi bagian penting dari pola rekreasi konsumen. Namun, data pengeluaran tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh anak muda memiliki perilaku konsumsi yang sama.

Bagi pelaku bisnis, perbedaan tersebut berarti pasar hobi tidak dapat diperlakukan sebagai satu kelompok konsumen yang seragam. Produk yang diminati, kemampuan membeli, dan alasan seseorang mengeluarkan uang untuk rekreasi bisa sangat berbeda.

Mengapa Masyarakat Tetap Membayar untuk Kesenangan?

Ada faktor psikologis dan sosial yang membantu menjelaskan mengapa sebagian orang tetap mempertahankan pengeluaran hiburan ketika biaya meningkat.

Dan Wasiolek, analis ekuitas senior Morningstar, mengatakan kepada CNBC bahwa pandemi COVID-19 mempercepat pergeseran menuju pengeluaran untuk pengalaman dibandingkan barang.

Pengalaman memiliki nilai yang berbeda dari kepemilikan barang. Menghadiri konser, melakukan perjalanan, mengikuti kegiatan komunitas, atau menjalankan hobi dapat memberikan kenangan, rasa keterhubungan, dan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang lain.

Nilai tersebut tidak selalu dapat diukur dari harga barang yang dibeli.

Riset Deloitte yang diterbitkan pada Oktober 2024 turut memperlihatkan adanya ketegangan antara keinginan menikmati hiburan dan kemampuan membayar. Dalam survei terhadap 3.554 konsumen Amerika Serikat, hampir 60% responden mengatakan mereka tidak menghadiri acara langsung yang ingin mereka datangi karena biayanya terlalu tinggi.

Temuan itu memberikan sudut pandang yang lebih seimbang. Funflation bukan berarti semua orang bersedia membayar berapa pun untuk bersenang-senang. Sebagian konsumen tetap berbelanja, sementara sebagian lainnya mengurangi kegiatan atau mencari alternatif yang lebih terjangkau.

Dengan demikian, permintaan hiburan dapat tetap kuat pada kategori tertentu tanpa berarti seluruh pasar terbebas dari tekanan harga.

Dampak Funflation terhadap Bisnis dan Industri Hiburan

Bagi pelaku usaha, funflation dapat membuka peluang sekaligus menghadirkan risiko.

Bisnis yang menjual perlengkapan hobi, buku, alat musik, peralatan olahraga, gim, atau produk rekreasi berpotensi memperoleh manfaat ketika konsumen mengalihkan pengeluaran ke kategori tersebut. Data Biro Sensus Amerika Serikat yang dikutip CNBC menunjukkan penjualan toko perlengkapan olahraga, toko hobi, alat musik, dan buku tumbuh lebih cepat daripada penjualan ritel dan jasa makanan secara keseluruhan pada periode tahunan yang sama.

Namun, pertumbuhan penjualan tidak menjamin keuntungan perusahaan meningkat dalam proporsi yang sama. Biaya persediaan, distribusi, tenaga kerja, sewa, dan pemasaran juga dapat memengaruhi margin usaha.

Industri hiburan langsung menghadapi persoalan yang berbeda. Ketika harga tiket meningkat terlalu tinggi, sebagian penonton dapat memilih tidak datang, membeli tiket kelas lebih murah, atau menunggu sampai mendekati hari acara.

Riset Deloitte juga mencatat bahwa biaya produksi yang meningkat dapat menekan penyelenggara acara. Sejumlah penyelenggara dan artis bahkan pernah membatalkan tur atau berpindah ke tempat yang lebih kecil ketika penjualan tiket tidak memenuhi harapan.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya batas kemampuan konsumen untuk membayar. Popularitas suatu acara memang dapat membuat penggemar bersedia mengeluarkan uang lebih besar, tetapi strategi menaikkan harga tidak selalu berhasil untuk seluruh jenis pertunjukan.

Dalam jangka panjang, pelaku usaha perlu memahami apakah kenaikan pendapatan berasal dari bertambahnya jumlah pelanggan, meningkatnya nilai transaksi, atau sekadar kenaikan harga.

Apakah Funflation Menandakan Ekonomi yang Sehat?

Jawabannya tidak dapat ditentukan hanya dari meningkatnya pengeluaran untuk hobi.

Di satu sisi, belanja rekreasi yang bertahan dapat menandakan bahwa konsumen masih memiliki ruang dalam anggaran untuk kegiatan di luar kebutuhan pokok. Permintaan tersebut dapat mendukung penjualan dan kegiatan usaha di sektor hiburan maupun ritel.

Di sisi lain, pengeluaran yang meningkat juga dapat terjadi ketika harga naik, bukan karena kondisi keuangan masyarakat membaik. Data agregat tidak menunjukkan secara langsung apakah setiap rumah tangga mampu memenuhi kebutuhan dasar, memiliki tabungan yang cukup, atau menggunakan utang untuk membiayai rekreasi.

Bahkan, laporan Deloitte memperlihatkan bahwa tingginya biaya dapat menghalangi sebagian konsumen menghadiri acara yang mereka inginkan.

Oleh sebab itu, funflation lebih tepat dipahami sebagai fenomena perilaku konsumsi dan perubahan biaya rekreasi, bukan sebagai bukti tunggal bahwa perekonomian sedang kuat atau melemah.

Untuk menilai kesehatan ekonomi secara lebih menyeluruh, diperlukan data tambahan mengenai pendapatan riil, pertumbuhan upah, tabungan rumah tangga, utang konsumen, dan perkembangan harga kebutuhan pokok.

Apakah Fenomena Ini Juga Terjadi di Indonesia?

Fenomena funflation relevan untuk diamati di Indonesia, terutama ketika konsumen harus membagi anggaran antara kebutuhan sehari-hari dan pengeluaran gaya hidup. Namun, data Amerika Serikat tidak dapat langsung digunakan untuk menyatakan bahwa pola yang sama telah terjadi dengan skala serupa di Indonesia.

Perbedaan tingkat pendapatan, struktur harga, akses terhadap hiburan, kebiasaan masyarakat, dan biaya perjalanan dapat menghasilkan pola konsumsi yang berbeda.

Untuk memastikan apakah funflation berkembang di Indonesia, diperlukan bukti lokal, seperti data pengeluaran rumah tangga, perubahan harga jasa rekreasi, penjualan perlengkapan hobi, serta belanja masyarakat untuk hiburan dan perjalanan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan survei konsumen dapat menjadi titik awal untuk menguji dugaan tersebut.

Tanpa data itu, menyebut funflation sebagai tren nasional yang sudah terbukti akan terlalu jauh. Yang dapat dikatakan adalah bahwa fenomena tersebut menyediakan kerangka untuk memahami bagaimana masyarakat menyesuaikan pilihan rekreasi ketika biaya meningkat.

Penutup: Kesenangan Tetap Dicari, tetapi Cara Membayarnya Berubah

Funflation memperlihatkan bahwa kenaikan biaya tidak selalu membuat masyarakat berhenti mengeluarkan uang untuk kesenangan. Sebagian konsumen tetap membeli perlengkapan hobi, bermain gim, atau mengikuti aktivitas rekreasi, tetapi mereka juga dapat mengurangi perjalanan mahal dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih dekat atau lebih terjangkau.

Data Bank of America Institute menunjukkan pengeluaran hobi di Amerika Serikat tumbuh 7,9% secara tahunan pada Agustus 2026, lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah transaksi sebesar 3,4%. Sementara itu, data harga rekreasi dan penjualan ritel memberikan konteks mengenai perubahan biaya serta aktivitas belanja konsumen.

Bagi bisnis, fenomena ini menjadi alasan untuk memperhatikan perubahan preferensi konsumen, bukan hanya menaikkan harga. Bagi rumah tangga, fenomena ini menjadi pengingat bahwa pengeluaran untuk hiburan tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan apakah masyarakat masih ingin bersenang-senang. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa biaya yang bersedia mereka keluarkan, kegiatan apa yang mereka pilih, dan apakah keputusan tersebut tetap sejalan dengan kondisi keuangan mereka.

Sumber Berita dan Referensi

  1. CNBC Indonesia — Inflasi Minggir, Fenomena Baru Muncul Bernama “Funflation”, 28 September 2026.
  2. Bank of America Institute — The Hobby Economy and the Price of Fun, September 2026.
  3. CNBC — ‘Funflation’ Is on the Rise as Hobbies Get Pricier, but Consumers Keep Spending Anyway, 27 September 2026. Artikel ini merupakan reproduksi yang mencantumkan CNBC sebagai penerbit asli.
  4. U.S. Bureau of Labor Statistics — Consumer Price Index, data Agustus 2026.
  5. U.S. Census Bureau — Advance Monthly Sales for Retail and Food Services, laporan Agustus 2026.
  6. Deloitte Insights — ‘Funflation’—and Live Event Hype—Goes Up Against More Cost-Conscious Consumers, 8 Oktober 2024.

Catatan verifikasi: artikel CNBC Indonesia menjadi sumber topik utama. Sejumlah data pendukung diperiksa melalui publikasi Bank of America Institute dan sumber resmi Amerika Serikat. Kesimpulan mengenai Indonesia disajikan sebagai pertanyaan analitis, bukan klaim bahwa fenomena tersebut telah terbukti secara nasional.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *