Deklarasi Gerakan Peduli Hutan, Yayasan Peduli Hutan Indonesia Hadir Sebagai Solusi Perbaikan Pengelolaan Hutan Indonesia

Spread the love

Foto: Istimewa

Jakarta, Nasional Post РHutan tropis Indonesia merupakan yang terbesar ketiga di dunia. Saat ini boleh lega, ketika para rimbawan senior dan masyarakat bersatu padu bergabung dalam sebuah Gerakan Masyarakat Peduli Hutan Indonesia (GMPHI).

Dr. Transtoto Handadhari (rimbawan UGM), penggagas dan koordinator gerakan menyatakan bahwa gerakan ini merupakan implementasi moral tanpa pamrih untuk bersama bergabung memperbaiki hutan kita yg rusak.

“Paling tidak 40 juta lahan hutan telah kosong. Banyak juga yang sudah alih fungsi jadi non hutan. Yang dianggap sudah hijau isi hutannya juga berubah menurun kualitas tegakannya. Sedangkan usaha perbaikannya masih belum juga signifikan akibat berbagai faktor dan alasan. Salah satunya masih adanya kejahatan kehutanan dan ketidakpedulian kita semua. Pemerintah yang telah berupaya keras mengelola hutan, harus kita dukung dan bantu memecahkan kerumitan masalah-masalahnya,” ucapnya.

Lebih lanjut, Transtoto menyebut gerakan ini memperkokoh peran rimbawan alumni UGM Yogyakarta bersatu padu bersama rimbawan IPB Bogor yang sering dinyatakan kurang harmonis dalam bekerja mengelola hutan.

“Teman-teman rimbawan dari UGM Jogja dan IPB Bogor ketika saya ajak bicara pertama kali tentang perlunya kita membantu perbaikan hutan kita spontan sepakat berhimpun, diikuti dari berbagai unsur, bahkan terbanyak oleh yang bukan rimbawan”, jelas Transtoto.

Menurut Transtoto sebelum berkiprah dan melakukan kegiatan sosialiasi penuh, Yayasan Peduli Hutan Indonesia (YPHI) akan segera dideklarasikan. Saat ini kata Transtoto, mereka terus menjalin komunikasi dengan Menteri LHK Siti Nurbaya mapun Sekjen KLHK Bambang Hendroyono.

“Yayasan PHI yang dimotori oleh GMPHI tersebut akan bekerja keras mewujudkan kembali kebangkitan pengelolaan hutan dengan hati bersih dan tanpa kecurangan (No Cheating). Bekerja bersama secara profesional, sosial, non partisan/non politik, dan jernih. Sementara itu Gerakan Peduli Hutan akan kami deklarasikan pada tanggal 22 Maret 2020, bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta,” tandas Transtoto.

Dia juga mengaku saat ini Gerakan Masyarakat Peduli Hutan sudah mendapat dukungan dari berbagai tokoh, akademisi, artis, seniman, profesional dan elemen masyarakat seperti Prof. Dr. Emil Salim, Ir. Djamaludin Suryohadikusumo, Prof. Sri Adiningsih, Prof. M. Naiem, Prof. Sambas, Prof. Djoko Marsono, Waskito Suryodibroto, Roja’i Zakaria, Titus Sariyanto, AA. Malik, Harry Santoso, Hendarsun, Iman Santoso. Rukmi Hadihartini, Bambang Setiadi, Agustanzil Sjahroezah, Prof. Daniel, Prof. Marlon, Gerson Njurumana, Suhendy, Johanis Cianes, Handriyo, Rudhito Widagdo (Kemlu), Irjenpol P Bekto Suprapto, Letjen TNI Burhanudin Amin, Mayjen TNI Suwandi, Mayjen Heru Tjahjono, Firman Subagyo, Idham Samawi, Darori Wonodipuro, Ratu Wula, Umbu Tagela, Arnanto Nur, Dina Hidayana (DPRRI/politikus), Aryan Wargadalam, Purwadi, David, Bambang Soepianto, Sobur, Ardy Sutandi, Joko Supriyono, Daud Dharsono, Jansen Manansang TSI, Soewarni, Samsudin BIMBO, Achmad Albar, Harry Capri, Anya Dwinov, Olga Lydia, Brigita Manohara, Davina, dr. Reisa, Wachyana Giri, Herdina, Aya Ross Jully, Perkumpulan Green Network Indonesia-Berbangsa, Snake Hunter Club Indonesia, Cobro Husada Indonesia, Merti Budoyo Nuswantoro, Gen Hijau Sumba-BERBANGSA, Yayasan Sapawana, ST-12 Kalsel, Muria Hijau Kudus, bahkan Perhimpunan Koperasi Digital Indonesia yang dipimpin Jak Tumewan.(Sar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *